Logo Paroki Trinitas Mahakudus Paslaten, TomohonParokiTrinitas Mahakudus Paslaten
Masuk
Sampul: Santo John Henry Newman: Kehilangan Sahabat demi Kebenaran
Komsos Trinitas Paslaten
9 Oktober 2026
Katekese

Santo John Henry Newman: Kehilangan Sahabat demi Kebenaran

6 menit baca1 pembaca
Bagikan
John_Henry_Newman_by_Sir_John_Everett_Millais,_1st_Bt.jpg

Pada 9 Oktober 1845, John Henry Newman meninggalkan kedudukan, nama baik, dan banyak sahabatnya demi mengikuti apa yang ia yakini benar. Tahun ini, untuk pertama kalinya, Gereja di seluruh dunia dapat memperingatinya pada tanggal itu.

Memilih kebenaran, apa pun harganya

Pernahkah kita harus memilih antara yang benar dan yang nyaman? Antara jujur pada hati nurani dan tetap disukai banyak orang? Pilihan seperti itu jarang mudah. Kadang yang dipertaruhkan adalah pekerjaan, nama baik, bahkan persahabatan.

Santo John Henry Newman pernah berdiri di persimpangan itu. Ia memilih kebenaran, dan ia kehilangan banyak hal. Namun hidupnya menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan orang yang tulus mencari-Nya berjalan sendirian.

Pengkhotbah dari Oxford

Newman lahir di London pada 1801. Ia menjadi imam Gereja Anglikan dan pengkhotbah yang sangat dihormati di Oxford. Sejak 1833, bersama sahabat-sahabatnya, ia memimpin Gerakan Oxford, sebuah gerakan yang ingin mengembalikan Gereja Inggris pada akar Gereja perdana. Ia menyunting tulisan-tulisan gerakan itu, Tracts for the Times.

Pada tahun yang sama, Newman jatuh sakit keras di Sisilia. Ia tertahan tiga minggu di Palermo, padahal sangat rindu pulang. Akhirnya ia menumpang kapal pengangkut jeruk menuju Marseille. Ketika kapal itu terhenti seminggu karena tak ada angin di Selat Bonifacio, ia menulis doa-puisi yang kelak dinyanyikan di seluruh dunia:

Lead, Kindly Light, amid the encircling gloom, Lead Thou me on! The night is dark, and I am far from home; Lead Thou me on! Keep Thou my feet; I do not ask to see The distant scene; one step enough for me.

Artinya kira-kira: “Tuntunlah, Cahaya yang lembut, di tengah gelap yang mengepung, tuntunlah aku. Malam pekat dan aku jauh dari rumah, tuntunlah aku. Jagalah langkahku. Aku tidak minta melihat jalan yang jauh; satu langkah saja cukup bagiku.”

Doa inilah yang menjadi gambar lentera di unggahan Instagram kita. Newman tidak meminta Tuhan menunjukkan seluruh jalan hidupnya. Ia hanya meminta terang untuk satu langkah berikutnya.

Harga sebuah kebenaran

Newman bertahun-tahun mempelajari tulisan para Bapa Gereja dan sejarah Gereja perdana. Semakin dalam ia membaca, semakin ia yakin bahwa Gereja Katolik adalah kelanjutan Gereja para rasul. Keyakinan itu membuatnya gelisah, sebab ia mencintai Gereja tempat ia dibesarkan dan sahabat-sahabat yang berjuang bersamanya.

Tahun 1843 ia melepaskan jabatannya sebagai pastor Gereja Santa Maria di Oxford. Pada 25 September 1843 ia menyampaikan khotbah perpisahan yang judulnya sangat menyentuh: The Parting of Friends, “Perpisahan Para Sahabat”.

Dua tahun kemudian, pada 8 Oktober 1845, seorang imam Pasionis dari Italia, Pater Dominic Barberi, tiba di Littlemore, desa kecil dekat Oxford tempat Newman tinggal. Keesokan harinya, 9 Oktober, Newman diterima ke dalam Gereja Katolik.

Harganya mahal. Ia kehilangan kedudukan dan nama baiknya di Oxford. Banyak sahabat kecewa dan menjauh, dan masyarakat Inggris lama tidak memaafkannya. Bahkan di dalam Gereja Katolik, selama bertahun-tahun ia masih dicurigai.

Namun Newman tetap setia. Ia percaya pada sabda Yesus: “kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:32).

Hati berbicara kepada hati

Setelah menjadi Katolik, Newman belajar di Roma dan ditahbiskan menjadi imam Katolik pada 30 Mei 1847. Di sana ia mengenal Kongregasi Oratorium Santo Filipus Neri, persekutuan para imam yang hidup bersama dan melayani umat. Pada akhir tahun itu ia pulang dan mendirikan Oratorium di Birmingham. Di kota itulah ia melayani hampir sepanjang sisa hidupnya.

Tahun 1864 seorang penulis terkenal menuduh para imam Katolik tidak peduli pada kebenaran. Newman menjawabnya dengan Apologia Pro Vita Sua, kisah jujur tentang bagaimana akal budi dan hati nuraninya menuntunnya ke Gereja Katolik. Banyak orang yang semula menentangnya berbalik menghormatinya.

Newman menulis banyak hal tentang hati nurani. Katekismus Gereja Katolik bahkan mengutipnya: hati nurani adalah utusan Allah dalam diri kita, dan ia menyebutnya “wakil Kristus yang asli” (KGK 1778).

Tahun 1879 Paus Leo XIII mengangkatnya menjadi kardinal. Newman sempat ragu menerimanya karena tidak ingin meninggalkan komunitasnya di Birmingham, dan Paus mengizinkannya tetap tinggal di sana. Untuk lambangnya sebagai kardinal ia memilih semboyan Cor ad cor loquitur, “hati berbicara kepada hati”. Bagi Newman, iman tidak tumbuh lewat perdebatan saja, tetapi lewat perjumpaan hati dengan hati: hati Allah dengan hati manusia, dan hati sesama.

Ia wafat di Birmingham pada 11 Agustus 1890.

Santo, Doktor Gereja, dan pelindung pendidikan

Gereja perlahan mengakui kekudusan dan kebijaksanaan Newman:

Tanggal 9 Oktober dipilih karena pada hari itulah ia diterima ke dalam Gereja Katolik. Jadi setiap tahun Gereja tidak hanya mengenang seorang pemikir besar, tetapi juga hari ketika seorang pencari kebenaran akhirnya menemukan rumahnya.

Satu langkah cukup

Dalam salah satu meditasinya, Newman menulis kalimat yang sampai kini menghibur banyak orang: “Allah menciptakan aku untuk melakukan suatu pelayanan tertentu bagi-Nya. Ia mempercayakan kepadaku suatu tugas yang tidak Ia percayakan kepada orang lain.” Setiap kita punya tempat dalam rencana Allah, sekecil apa pun peran itu terlihat.

Kita mungkin tidak akan pernah diminta meninggalkan semua seperti Newman. Namun setiap hari kita menghadapi pilihan kecil antara yang benar dan yang nyaman. Newman mengajarkan untuk tidak menunggu seluruh jalan terang lebih dulu. Cukup mintalah terang untuk satu langkah, lalu melangkahlah dengan setia.

Untuk minggu ini:

  • Saat bingung mengambil keputusan, berdoalah seperti Newman: “Tuhan, aku tidak minta melihat seluruh jalan. Satu langkah saja cukup bagiku.”
  • Dengarkan hati nurani, dan bentuklah ia lewat doa, Kitab Suci, dan ajaran Gereja.
  • Jika ada sahabat yang kini berbeda jalan, tetaplah mendoakan dan mengasihinya.
  • Doakan para guru, dosen, pelajar, dan mahasiswa di paroki kita. Newman adalah pelindung mereka.

Doa

Tuhan, Cahaya yang lembut, tuntunlah kami di tengah gelapnya hidup ini. Kami tidak meminta melihat seluruh jalan; berilah kami terang untuk satu langkah berikutnya. Seperti Santo John Henry Newman, berilah kami keberanian untuk setia pada kebenaran, walau harus kehilangan sesuatu yang kami sayangi. Biarlah hati-Mu berbicara kepada hati kami. Amin.

Santo John Henry Newman, doakanlah kami.

Sumber