Logo Paroki Trinitas Mahakudus Paslaten, TomohonParokiTrinitas Mahakudus Paslaten
Masuk
Sampul: Katekese: Santa Faustina, Rasul Kerahiman Ilahi
Komsos Trinitas Paslaten
5 Oktober 2026
Katekese

Katekese: Santa Faustina, Rasul Kerahiman Ilahi

9 menit baca7 pembaca
Bagikan
Maria_Faustyna_Kowalska.jpg

Pengantar

Bayangkan seorang gadis desa berusia sekitar 19 tahun, sedang berdansa di sebuah pesta bersama teman-temannya. Musik mengalun, semua orang bergembira. Tiba-tiba ia melihat Yesus berdiri di sampingnya, penuh luka, dan bertanya dengan lembut: sampai kapan engkau akan membuat-Ku menunggu?

Gadis itu meninggalkan pesta. Malam itu juga ia berkemas dan berangkat ke Warsawa untuk menjawab panggilan itu (The GIVEN Institute). Namanya Helena Kowalska. Dunia kini mengenalnya sebagai Santa Faustina, "Rasul Kerahiman Ilahi".

Setiap 5 Oktober, hari wafatnya, Gereja di seluruh dunia memperingatinya. Ia bukan orang terpelajar, bukan orang terkenal, dan sepanjang hidupnya ia hanya bekerja di dapur, kebun, dan pintu biara. Namun lewat dirinya, Tuhan mengingatkan dunia akan satu hal yang sering kita lupakan: kasih Allah lebih besar daripada dosa kita.

Katekese ini mengajak umat Paroki Trinitas Paslaten mengenal kisahnya, memahami pesan yang ia wariskan, dan belajar menghidupinya dalam keseharian kita.

Gadis sederhana dari desa Głogowiec

Helena Kowalska lahir pada 25 Agustus 1905 di desa kecil Głogowiec, Polandia. Ia anak ketiga dari sepuluh bersaudara, dalam keluarga petani yang miskin tetapi sangat beriman (The Divine Mercy). Karena keadaan keluarga, ia hanya sempat bersekolah kurang dari tiga tahun (saint-faustina.org). Sejak remaja ia sudah bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk membantu orang tuanya.

Keinginan untuk menjadi suster sudah tumbuh sejak kecil, tetapi orang tuanya tidak mengizinkan. Sampai akhirnya datang malam di pesta dansa itu, ketika ia tidak bisa lagi menunda jawaban atas panggilan Tuhan.

Di Warsawa, jalan tidak langsung terbuka. Ia mengetuk pintu beberapa biara dan ditolak. Ketika akhirnya ada biara yang mau menerimanya, ia masih harus bekerja setahun lagi sebagai pembantu rumah tangga untuk mengumpulkan biaya perlengkapan masuk biara. Pada 1 Agustus 1925, ia resmi diterima di Kongregasi Suster-Suster Bunda Allah Kerahiman dan memakai nama Suster Maria Faustina dari Sakramen Mahakudus (The Divine Mercy).

Selama 13 tahun di biara, ia tinggal di beberapa rumah kongregasi, antara lain di Kraków, Płock, dan Vilnius. Tugasnya sederhana saja: juru masak, tukang kebun, dan penjaga pintu (EWTN). Tidak ada yang istimewa di mata orang. Tetapi justru di dalam pekerjaan-pekerjaan kecil itulah, ia hidup sangat dekat dengan Tuhan.

"Yesus, Engkaulah andalanku"

Malam 22 Februari 1931, di biara di kota Płock, Suster Faustina sedang berdoa di kamarnya. Ia melihat Yesus berjubah putih. Satu tangan-Nya terangkat memberkati, tangan yang lain menyentuh dada. Dari dada-Nya memancar dua sinar besar, satu merah dan satu pucat. Yesus memintanya agar gambar itu dilukis, dengan tulisan di bawahnya: "Yesus, Engkaulah andalanku" (Wikipedia).

Seorang suster yang tidak bisa melukis diminta membuat lukisan. Bisa dibayangkan betapa bingungnya ia. Bertahun-tahun kemudian, di Vilnius, bapa pengakuannya, Beato Michał Sopoćko, menemukan pelukis Eugeniusz Kazimirowski. Di bawah bimbingan Suster Faustina sendiri, lukisan Kerahiman Ilahi yang pertama selesai pada 1934 (The Divine Mercy).

Ada kisah kecil yang menyentuh di sini. Saat melihat hasilnya, Suster Faustina justru menangis. Yesus yang ia lihat jauh lebih indah daripada lukisan itu. Lalu Yesus menghiburnya: keagungan gambar ini bukan terletak pada indahnya warna atau goresan kuas, melainkan pada rahmat-Nya (The Divine Mercy). Tuhan tidak menunggu sesuatu yang sempurna untuk bekerja.

Makna dua sinar. Dalam homili kanonisasi Santa Faustina, Paus Yohanes Paulus II mengutip penjelasan Yesus sendiri kepadanya: kedua sinar itu melambangkan darah dan air (Vatican). Kita langsung teringat pada Injil Yohanes: ketika lambung Yesus ditikam tombak di salib, segera mengalir darah dan air (Yoh 19:34). Dalam buku hariannya, Santa Faustina menuliskan bahwa sinar pucat melambangkan air yang menyucikan jiwa, dan sinar merah melambangkan darah yang menjadi kehidupan jiwa (The Divine Mercy).

kerahiman-ilahi-kazimirowski-1934.jpg

Buku harian dari seorang yang hampir tak bersekolah

Atas permintaan bapa pengakuannya, Suster Faustina mulai menuliskan pengalaman rohaninya. Hasilnya adalah enam buku catatan, 477 lembar yang ditulis rapat di kedua sisinya (saint-faustina.org). Ia menulis apa adanya. Kalau ada huruf yang terlewat, kata yang terulang, atau salah eja, ia tidak memperbaikinya.

Bayangkan: seorang suster yang sekolah tak sampai tiga tahun, menulis dengan ejaan yang tidak sempurna, di sela pekerjaan dapur dan kebun. Kini buku hariannya, yang dikenal sebagai Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku, sudah diterjemahkan ke banyak bahasa dan dibaca di seluruh dunia (Draugas). Tuhan memang suka bekerja lewat orang-orang kecil.

Doa yang kini didaraskan di seluruh dunia. Pada 13 dan 14 September 1935, di Vilnius, Suster Faustina mencatat sebuah doa yang menurut kesaksiannya diajarkan Yesus sendiri: Koronka Kerahiman Ilahi (Wikipedia). Doanya sederhana dan didoakan dengan butir-butir rosario. Pada manik kecil, kita cukup mengulang satu kalimat:

"Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia."

Doa yang lahir dari buku catatan seorang suster sederhana itu kini didaraskan umat Katolik di hampir setiap penjuru dunia, termasuk di paroki-paroki di Indonesia.

Wafat muda, sempat dilupakan, lalu dimuliakan

Suster Faustina menderita tuberkulosis. Penyakitnya makin parah, dan ia mempersembahkan penderitaannya bagi orang-orang berdosa. Ia wafat di Kraków pada 5 Oktober 1938, dalam usia 33 tahun (The Divine Mercy).

Setelah wafatnya, jalan pesan kerahiman ini tidak mulus. Pada 1959, Takhta Suci melarang penyebaran devosi Kerahiman Ilahi dalam bentuk yang dikaitkan dengan Faustina. Salah satu masalahnya adalah teks dan terjemahan awal buku hariannya yang tidak akurat (saint-faustina.org). Setelah penelitian atas dokumen asli dan peninjauan kembali, larangan itu dicabut pada 1978 (Vatican). Salah satu yang mendorong penelitian ulang itu adalah Uskup Agung Kraków saat itu, Karol Wojtyła (Draugas).

Beberapa bulan setelah larangan itu dicabut, Karol Wojtyła terpilih menjadi Paus Yohanes Paulus II. Dialah yang kemudian membeatifikasi Suster Faustina pada 1993, dan mengkanonisasinya pada 30 April 2000, sebagai santa pertama di milenium baru. Dalam homilinya, Paus menyebut hidup dan kesaksian Santa Faustina sebagai "karunia Allah bagi zaman kita" (Vatican).

Lima tahun kemudian, Paus Yohanes Paulus II sendiri wafat pada malam menjelang Minggu Kerahiman Ilahi, pesta yang ia tetapkan untuk seluruh Gereja (Catholic Insight).

Tiga cara sederhana menghidupi Kerahiman Ilahi

Pesan Santa Faustina bukan hanya untuk dikagumi, tetapi untuk dihidupi. Ada tiga kebiasaan sederhana yang bisa kita mulai (Wikipedia):

  1. Jam Kerahiman, pukul 15.00. Jam ketika Yesus wafat di salib. Di tengah kesibukan, berhentilah sejenak. Tidak perlu lama. Cukup satu doa singkat dari hati, misalnya: "Yesus, Engkaulah andalanku."
  2. Koronka Kerahiman Ilahi. Doa ini hanya butuh sekitar sepuluh menit. Bisa didoakan sendiri, bersama keluarga, atau di samping orang sakit dan orang yang sedang menghadapi ajal.
  3. Minggu Kerahiman Ilahi. Setiap Minggu Paskah II, seminggu sesudah Paskah, Gereja merayakan Minggu Kerahiman Ilahi. Pesta ini ditetapkan Paus Yohanes Paulus II bagi seluruh Gereja pada hari kanonisasi Santa Faustina.

Sejak 2020, Paus Fransiskus memasukkan peringatan Santa Faustina ke Kalender Romawi Umum, sehingga kini seluruh Gereja memperingatinya setiap 5 Oktober (Vatican News).

Apa artinya bagi kita?

Tidak ada orang yang terlalu berdosa untuk diampuni. Banyak dari kita menyimpan rasa bersalah yang lama sekali tidak kita bawa kepada Tuhan. Kita merasa tidak pantas, atau malu kembali ke kamar pengakuan. Pesan Santa Faustina sederhana sekali: kerahiman Allah lebih besar daripada dosa apa pun. Paus Yohanes Paulus II mengutip pesan Yesus kepadanya: umat manusia tidak akan menemukan damai sampai ia berpaling dengan penuh kepercayaan kepada kerahiman Ilahi (Vatican).

Percaya justru saat hidup terasa berat. Kalimat "Yesus, Engkaulah andalanku" mudah diucapkan saat semuanya baik-baik saja. Santa Faustina mengucapkannya saat ditolak, saat sakit, dan saat tidak dimengerti orang. Mungkin kalimat yang sama sedang kita butuhkan hari ini: saat menunggu hasil pemeriksaan dokter, saat keluarga sedang tidak rukun, atau saat masa depan terasa gelap.

Kerahiman yang kita terima, kita teruskan. Dalam buku hariannya, Santa Faustina mencatat bahwa Yesus meminta perbuatan kerahiman bagi sesama, lewat tindakan, kata-kata, dan doa (The Divine Mercy). Mengunjungi tetangga yang sakit, memaafkan orang yang menyakiti kita, menahan diri untuk tidak menghakimi di media sosial, atau sekadar mendoakan seseorang yang sedang kesulitan. Semua itu adalah cara kecil membagikan kerahiman yang lebih dulu kita terima.

Pertanyaan refleksi

Pertanyaan ini bisa dipakai untuk renungan pribadi, pertemuan KBG/rukun, atau OMK.

  1. Santa Faustina sempat ditolak beberapa biara, tetapi tidak menyerah. Pernahkah saya merasa ditolak saat ingin berbuat baik? Apa yang membuat saya tetap bertahan, atau justru berhenti?
  2. Adakah dosa atau luka lama yang belum berani saya bawa kepada Tuhan, karena saya merasa terlalu malu atau tidak pantas?
  3. Dalam situasi apa saya paling sulit mengatakan "Yesus, Engkaulah andalanku"?
  4. Siapa orang di sekitar saya yang paling membutuhkan kerahiman minggu ini, lewat tindakan, kata-kata, atau doa?
  5. Bisakah keluarga atau KBG kita mulai berhenti sejenak setiap pukul tiga sore untuk berdoa?

Doa penutup

Tuhan Yesus yang maharahim, Engkau memilih seorang suster sederhana untuk mengingatkan dunia betapa besar kasih-Mu.

Kami datang dengan segala kelemahan dan dosa kami. Ajarlah kami untuk tidak lari dari-Mu, tetapi berlari kepada-Mu, seperti anak kepada ayahnya.

Bentuklah hati kami menjadi hati yang berbelas kasih, agar kerahiman yang kami terima dapat kami bagikan lewat tindakan, kata-kata, dan doa kami setiap hari.

Santa Faustina, doakanlah kami. Yesus, Engkaulah andalanku. Amin.

Sumber dan bacaan lanjut

Dokumen resmi Gereja

Riwayat hidup dan buku harian

Gambar dan devosi Kerahiman Ilahi

Gambar: Komsos Paroki Trinitas Paslaten. Gambar pertama Kerahiman Ilahi: Eugeniusz Kazimirowski, Vilnius, 1934, domain publik.