Logo Paroki Trinitas Mahakudus PaslatenParokiTrinitas Mahakudus Paslaten
Masuk
Warna Liturgi: Hijau

St. Tarsisius

Renungan: Menjadi Berkat, Bukan Menjadi Batu Sandungan
Ukuran Teks Halaman:

BACAAN KITAB SUCI & LITURGI

Klik judul bacaan untuk membuka/menutup teks Kitab Suci

Yeh 18:1-10.13b.30-32
Mzm 51:12-13.14-15.18-19
Mat 19:13-15

BACAAN OFISI (BCO)

Za 14:1-21
1Taw. 15:3-4,15-16; 16:1-2
Mzm. 132:6-7,9-10,13-14
1Kor. 15:54b-57
Luk. 11:27-28
Sumber Teks Bacaan:imankatolik.or.id
Acuan: Mat 19:13-15

Menjadi Berkat, Bukan Menjadi Batu Sandungan

Sabtu, 15 Agustus 2026 St. Tarsisius Yeh 18:1-10.13b.30-32; Mzm 51:12-13.14-15.18-19; Mat 19:13-15

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mudah menyalahkan keadaan atau orang lain atas apa yang terjadi dalam hidup kita.

“Dia yang membuat saya begini.”

“Kalau keluarga saya tidak seperti itu, mungkin hidup saya akan berbeda.”

“Kalau teman-teman saya tidak menjauh, saya tidak akan berubah.”

Tetapi dalam bacaan pertama hari ini, Tuhan mengingatkan kita bahwa setiap orang bertanggung jawab atas pilihan hidupnya sendiri.

“Bertobatlah dan berbaliklah dari segala durhakamu, supaya itu jangan menjadi batu sandungan yang menjatuhkan kamu.”

Tuhan tidak ingin kita terus hidup dalam kesalahan masa lalu. Ia memberikan kesempatan untuk berubah.

🌱 Tuhan Tidak Menentukan Kita dari Masa Lalu

Mungkin ada di antara kita yang pernah melakukan kesalahan. Pernah mengecewakan orang tua, bertengkar dengan teman, gagal dalam pelayanan, jatuh dalam dosa, atau mengambil keputusan yang kita sesali.

Namun Tuhan tidak berkata, “Karena kamu pernah salah, maka selamanya kamu adalah orang yang salah.”

Sebaliknya, Tuhan berkata:

“Berbaliklah. Mulailah lagi.”

Pertobatan bukan berarti kita tidak pernah jatuh. Pertobatan berarti kita mau bangkit setiap kali jatuh dan kembali kepada Tuhan.

Dalam kehidupan anak muda, ini sangat nyata. Kita hidup di tengah dunia yang sering mengatakan bahwa nilai diri seseorang ditentukan oleh prestasi, penampilan, jumlah pengikut, pekerjaan, atau pengakuan orang lain.

Tetapi Tuhan melihat lebih dalam.

Tuhan melihat hati yang mau berubah.

❤️ “Biarkan Anak-Anak Itu Datang Kepada-Ku”

Dalam Injil, orang-orang membawa anak-anak kepada Yesus agar Ia memberkati mereka. Para murid justru mencoba menghalangi.

Tetapi Yesus berkata:

“Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku.”

Ada pesan yang sangat sederhana tetapi kuat:

Jangan menjadi penghalang bagi orang lain untuk mendekat kepada Tuhan.

Kadang-kadang kita bisa menjadi seperti para murid.

Bukan karena kita berniat jahat, tetapi karena sikap kita membuat orang lain merasa tidak diterima.

Di Gereja, misalnya, orang baru datang tetapi tidak ada yang menyapa.

Anak muda ingin terlibat tetapi malah dianggap belum berpengalaman.

Seseorang melakukan kesalahan lalu langsung dijauhi.

Ada orang yang ingin kembali ke Gereja, tetapi justru merasa dihakimi.

Tanpa sadar, kita bisa menjadi batu sandungan.

Padahal tugas kita bukan menentukan siapa yang layak datang kepada Yesus.

Tugas kita adalah membuka jalan agar semakin banyak orang dapat bertemu dengan-Nya.

🕊️ Belajar dari St. Tarsisius

Hari ini kita memperingati St. Tarsisius, seorang martir muda yang dikenal karena keberaniannya menjaga dan mempertahankan Ekaristi.

Ia masih sangat muda, tetapi imannya tidak dianggap sebagai sesuatu yang kecil.

Teladan Tarsisius mengingatkan kita bahwa usia muda bukan alasan untuk hidup biasa-biasa saja dalam iman.

Menjadi muda bukan berarti kita harus menunggu sampai tua untuk melayani Tuhan.

Kita bisa menjadi saksi Kristus sekarang:

di sekolah, di kampus, di tempat kerja, di media sosial, dalam keluarga, dalam persahabatan, dan tentu saja dalam komunitas Gereja.

Mungkin kita tidak akan diminta melakukan pengorbanan seperti St. Tarsisius.

Tetapi kita tetap dipanggil untuk memiliki keberanian yang sama:

berani mempertahankan iman ketika iman tidak populer.

Berani berkata jujur ketika berbohong terasa lebih mudah.

Berani menolak ajakan yang menjauhkan kita dari Tuhan.

Berani meminta maaf.

Berani mengampuni.

Berani menyapa orang yang sendirian.

Dan berani membawa orang lain semakin dekat kepada Kristus.

⛪ Untuk Kita di Paroki Trinitas Mahakudus Paslaten

Sebagai umat Paroki Trinitas Mahakudus Paslaten, kita dipanggil bukan hanya untuk datang ke Gereja, tetapi untuk menjadi Gereja yang hidup.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah kehadiran saya membuat orang lain semakin dekat kepada Tuhan, atau justru menjauh?

Apakah perkataan saya membangun atau menjatuhkan?

Apakah pelayanan saya membuat orang lain merasa diterima?

Apakah media sosial saya menjadi tempat yang membawa sukacita dan kebaikan?

Apakah orang yang bertemu dengan saya dapat merasakan kasih Kristus?

Mungkin kita tidak bisa mengubah dunia hari ini.

Tetapi kita bisa mengubah cara kita memperlakukan satu orang yang kita jumpai hari ini.

Jangan menjadi batu sandungan.

Jadilah jalan.

Jadilah orang yang membuat seseorang berani kembali kepada Tuhan.

🙏 Doa

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau selalu memberikan kesempatan kepada kami untuk berubah dan kembali kepada-Mu.

Ampunilah kami ketika perkataan dan tindakan kami menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Ajarlah kami seperti St. Tarsisius untuk memiliki iman yang berani, hati yang murni, dan kesetiaan kepada-Mu.

Jadikanlah kami umat yang mampu membuka jalan bagi orang lain untuk mengenal dan mengalami kasih-Mu.

Semoga keluarga dan komunitas Paroki Trinitas Mahakudus Paslaten menjadi tempat di mana setiap orang merasa diterima, dikasihi, dan semakin dekat dengan Kristus.

Amin.

✨ Pertanyaan untuk Hari Ini

Apakah melalui perkataan, sikap, dan tindakan saya hari ini, orang lain menjadi semakin dekat kepada Tuhan atau justru semakin jauh?

Author: Vann