Perayaan Wajib — St. Maksimilianus Maria Kolbe
BACAAN KITAB SUCI & LITURGI
Klik judul bacaan untuk membuka/menutup teks Kitab Suci
BACAAN OFISI (BCO)
Kasih yang Tidak Menyerah
Jumat, 14 Agustus 2026 Perayaan Wajib St. Maksimilianus Maria Kolbe Yeh 16:1-15.60.63 / Yeh 16:59-63; Yes 12:2-3.4bcd.5-6; Mat 19:3-12
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menginginkan sesuatu yang serba mudah. Ketika hubungan mulai sulit, kita memilih menjauh. Ketika pelayanan terasa melelahkan, kita mulai bertanya, “Untuk apa saya terus melakukan ini?” Bahkan dalam keluarga, persahabatan, pekerjaan, dan komunitas Gereja, kita bisa tergoda untuk berhenti ketika kasih menuntut pengorbanan.
Injil hari ini berbicara tentang kesetiaan. Yesus mengingatkan bahwa kasih dan perkawinan bukan sekadar soal perasaan yang menyenangkan, tetapi tentang komitmen untuk tetap setia ketika keadaan tidak selalu sesuai dengan keinginan kita.
Menariknya, bacaan pertama menggambarkan Israel seperti seseorang yang telah menerima begitu banyak kasih dari Tuhan, tetapi kemudian melupakan Dia. Manusia sering seperti itu. Saat membutuhkan Tuhan, kita datang kepada-Nya. Tetapi ketika hidup mulai berjalan baik, kita bisa lupa bersyukur dan merasa bahwa semuanya adalah hasil kekuatan kita sendiri.
Namun Tuhan tidak berhenti mengasihi.
Di sinilah kita menemukan kabar baik: kasih Tuhan tidak mudah menyerah kepada manusia. Ketika manusia tidak setia, Tuhan tetap membuka jalan untuk pemulihan.
Hari ini Gereja memperingati St. Maksimilianus Maria Kolbe, seorang imam Fransiskan yang menunjukkan arti kasih yang konkret. Di kamp konsentrasi Auschwitz, ketika seorang tahanan dijatuhi hukuman mati, Maksimilianus Kolbe secara sukarela menggantikan orang tersebut dan menyerahkan hidupnya.
Ia tidak hanya berbicara tentang kasih.
Ia memberikan dirinya sendiri.
Teladan St. Maksimilianus Kolbe mengajak kita bertanya: Sejauh mana kasih kita kepada orang lain sudah menjadi tindakan nyata?
Kadang-kadang pengorbanan itu tidak selalu sebesar yang dilakukan St. Maksimilianus Kolbe. Dalam kehidupan kita, pengorbanan bisa sesederhana:
- memilih mendengarkan daripada membalas ketika sedang marah;
- meminta maaf meskipun merasa diri kita benar;
- tetap membantu keluarga ketika kita sedang lelah;
- tidak meninggalkan teman yang sedang mengalami kesulitan;
- tetap melayani di Gereja meskipun tidak selalu dihargai;
- memberi waktu kepada orang yang membutuhkan perhatian;
- dan tetap berdoa bagi seseorang yang mungkin sedang sulit kita kasihi.
Kasih sejati tidak selalu terasa nyaman.
Kadang kasih berarti bertahan. Kadang kasih berarti mengampuni. Kadang kasih berarti melepaskan ego. Dan kadang kasih berarti memberikan sesuatu dari diri kita agar orang lain dapat mengalami kehidupan yang lebih baik.
Bagi kita umat Paroki Trinitas Mahakudus Paslaten, pesan ini juga sangat dekat dengan kehidupan komunitas kita. Gereja bukan hanya tempat kita datang untuk mengikuti Misa. Gereja adalah keluarga. Di dalamnya ada banyak pribadi dengan karakter, pendapat, dan latar belakang yang berbeda.
Karena itu, membangun komunitas Gereja membutuhkan kesetiaan dan pengorbanan.
Jangan sampai kita hanya mau melayani ketika semuanya sesuai dengan keinginan kita. Jangan hanya aktif ketika dipuji. Jangan hanya hadir ketika suasananya menyenangkan.
Belajarlah dari Kristus dan St. Maksimilianus Kolbe:
mengasihi bukan karena semuanya mudah, tetapi karena seseorang berharga.
Hari ini, mungkin ada orang di sekitar kita yang sedang membutuhkan kasih kita. Mungkin anggota keluarga yang sedang kita jauhi. Teman yang sedang mengalami masalah. Rekan pelayanan yang sedang kecewa. Atau seseorang yang selama ini kita sulit maafkan.
Jangan menunggu mereka berubah terlebih dahulu.
Mulailah dari diri kita.
Sebab terkadang Tuhan memakai satu tindakan kecil dari kita untuk menjadi jawaban atas doa seseorang.
🙏 Doa
Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk mengasihi dengan tulus dan setia.
Ketika kami lelah, berilah kami kekuatan untuk tetap bertahan. Ketika kami kecewa, ajarilah kami untuk mengampuni. Ketika kami ingin menyerah, ingatkan kami bahwa kasih tidak selalu berarti merasa nyaman, tetapi berani memberikan diri.
Semoga melalui teladan St. Maksimilianus Maria Kolbe, kami semakin berani mengasihi bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata.
Jadikanlah keluarga kami, persahabatan kami, pekerjaan kami, dan komunitas Paroki Trinitas Mahakudus Paslaten tempat di mana kasih-Mu sungguh dapat dirasakan.
Amin.
✨ Pertanyaan untuk Hari Ini
Siapa satu orang yang hari ini perlu saya kasihi, ampuni, dengarkan, atau bantu—meskipun saya tidak merasa nyaman melakukannya?
Author: Vann
