Logo Paroki Trinitas Mahakudus Paslaten, TomohonParokiTrinitas Mahakudus Paslaten
Masuk
Sampul: Katekese: Belas Kasih Tidak Bertanya "Dia Siapa?"
Komsos Trinitas Paslaten
5 Oktober 2026
Katekese

Katekese: Belas Kasih Tidak Bertanya "Dia Siapa?"

8 menit baca2 pembaca
Bagikan

Pengantar

Senin, 5 Oktober 2026, Gereja mendengarkan salah satu perumpamaan Yesus yang paling dikenal: Orang Samaria yang Baik Hati (Lukas 10:25-37). Pada hari yang sama, Gereja di seluruh dunia memperingati Santa Faustina Kowalska, suster sederhana dari Polandia yang dikenal sebagai "Rasul Kerahiman Ilahi".

Keduanya bicara tentang hal yang sama: belas kasih. Injil hari ini menunjukkan seperti apa belas kasih itu dalam tindakan. Santa Faustina mengingatkan dari mana belas kasih itu berasal: dari hati Yesus sendiri.

Katekese ini mengajak umat Paroki Trinitas Paslaten merenungkan Injil hari ini, mengenal Santa Faustina dan gambar Kerahiman Ilahi, lalu bertanya: kepada siapa kita dipanggil menjadi "orang Samaria" minggu ini?

Injil hari ini: "Siapakah sesamaku?"

Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus apa yang harus ia lakukan untuk memperoleh hidup kekal. Jawabannya ia tahu sendiri: kasihilah Allah dan kasihilah sesamamu. Tetapi ia ingin membenarkan diri, lalu bertanya lagi: "Siapakah sesamaku manusia?" (Luk 10:29).

Yesus menjawab dengan sebuah cerita. Seorang yang dirampok dan dipukuli tergeletak setengah mati di jalan dari Yerusalem ke Yerikho. Seorang imam lewat, begitu pula seorang Lewi; keduanya menghindar ke seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, orang yang dianggap musuh oleh orang Yahudi saat itu. Ia tergerak oleh belas kasihan, membalut luka orang itu, membawanya ke penginapan, dan menanggung biaya perawatannya.

Di akhir cerita, Yesus membalik pertanyaannya. Ia tidak bertanya "siapa yang pantas disebut sesamamu?", melainkan "siapa yang menjadi sesama bagi orang yang malang itu?" Jawabannya: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Lalu Yesus berkata: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!" (Luk 10:37).

Orang Samaria sebagai gambaran Kristus. Selain makna harfiahnya, tradisi Gereja juga mengenal pembacaan alegoris atas perumpamaan ini, terutama dalam penafsiran Santo Agustinus. Dalam pembacaan itu, Orang Samaria dapat dipandang sebagai gambaran Kristus. Origenes, misalnya, menafsirkan orang yang dirampok sebagai Adam, yaitu seluruh umat manusia, dan penginapan yang menerima siapa saja sebagai Gereja (Lectionary Central). Santo Agustinus dan Santo Hieronimus juga memaknai minyak dan anggur yang dituangkan ke luka sebagai sakramen-sakramen (Catholic Insight).

Dalam terang pembacaan ini, sebelum kita dipanggil menjadi "orang Samaria" bagi orang lain, kita lebih dulu adalah orang yang terluka di pinggir jalan, dan Yesuslah yang berhenti untuk kita. Inilah yang disebut kerahiman.

Santa Faustina: suster sederhana, pesan yang mendunia

Maria_Faustyna_Kowalska.jpg

Santa Faustina lahir dengan nama Helena Kowalska pada 25 Agustus 1905 di desa Głogowiec, Polandia, sebagai anak ketiga dari sepuluh bersaudara dalam keluarga petani yang miskin tetapi saleh (The Divine Mercy). Ia hanya sempat bersekolah kurang dari tiga tahun (saint-faustina.org).

  • Panggilan di tengah pesta dansa. Pada usia sekitar 19 tahun, saat sedang berdansa di sebuah pesta, ia mendapat penglihatan Yesus yang menderita. Malam itu juga ia berkemas dan berangkat ke Warsawa (The GIVEN Institute).
  • Ditolak beberapa biara. Setelah beberapa kali ditolak, ia akhirnya diterima di Kongregasi Suster-Suster Bunda Allah Kerahiman pada 1 Agustus 1925, dan memakai nama Suster Maria Faustina (The Divine Mercy).
  • Tugas yang sederhana. Selama 13 tahun di biara, ia tinggal di Kraków, Płock, dan Vilnius, dan bekerja sebagai juru masak, tukang kebun, dan penjaga pintu (EWTN).
  • Buku harian. Atas permintaan bapa pengakuannya, ia menuliskan pengalaman rohaninya dalam buku harian yang kini dikenal sebagai Kerahiman Ilahi dalam Jiwaku.
  • Wafat muda. Digerogoti tuberkulosis, ia wafat di Kraków pada 5 Oktober 1938, dalam usia 33 tahun (The Divine Mercy).
  • Santa pertama milenium baru. Paus Yohanes Paulus II membeatifikasinya pada 18 April 1993 dan mengkanonisasinya pada 30 April 2000 (saint-faustina.org).

Dari luar, hidupnya tampak biasa saja: seorang suster yang bekerja di dapur dan kebun. Namun lewat dialah pesan kerahiman Allah sampai ke seluruh dunia.

Gambar Kerahiman Ilahi

Kazimirowski_Eugeniusz,_Divine_Mercy,_1934.jpg

Pada 22 Februari 1931, Santa Faustina melihat Yesus berjubah putih, dengan satu tangan terangkat memberkati dan tangan lainnya menyentuh dada. Dari dada-Nya memancar dua sinar besar, satu merah dan satu pucat. Yesus memintanya agar gambar itu dilukis dengan tulisan "Yesus, Engkaulah andalanku" (Wikipedia).

Lukisan yang pertama. Di Vilnius, bapa pengakuannya, Beato Michał Sopoćko, meminta pelukis Eugeniusz Kazimirowski melukis gambar itu di bawah bimbingan Santa Faustina sendiri. Lukisan ini selesai pada 1934 dan kini dikenal sebagai "gambar Vilnius" (The Divine Mercy). Saat pertama kali melihat hasilnya, Santa Faustina justru menangis kecewa dan bertanya kepada Yesus siapa yang dapat melukis-Nya seindah aslinya. Yesus menjawab bahwa keagungan gambar itu tidak terletak pada keindahan warna atau kuasnya, melainkan pada rahmat-Nya (The Divine Mercy).

Makna dua sinarnya. Ketika bapa pengakuannya menyuruhnya menanyakan arti kedua sinar itu, Santa Faustina menuliskan jawaban yang ia terima dalam doa: sinar pucat melambangkan air yang membenarkan jiwa, dan sinar merah melambangkan darah yang menjadi kehidupan jiwa. Keduanya memancar dari hati Yesus yang ditikam tombak di salib (Buku Harian, no. 299; The Divine Mercy). Kita teringat pada Injil Yohanes: dari lambung Yesus yang ditikam, segera mengalir darah dan air (Yoh 19:34).

Dalam lukisan, sinar merah ada di sisi kiri dan sinar pucat di sisi kanan, dilihat dari sudut pandang kita (The Divine Mercy). Banyak penafsir memaknai air sebagai sakramen Pembaptisan dan Tobat, dan darah sebagai Ekaristi.

Devosi Kerahiman Ilahi

Lewat buku harian Santa Faustina, Gereja menerima beberapa bentuk devosi kepada Kerahiman Ilahi (Wikipedia). Tiga yang paling dikenal:

  • Koronka Kerahiman Ilahi. Doa singkat yang didoakan dengan butir-butir rosario. Pada manik besar kita mendoakan: "Bapa yang kekal, kupersembahkan kepada-Mu Tubuh dan Darah, Jiwa dan Ke-Allahan Putra-Mu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus, sebagai pemulihan dosa-dosa kami dan dosa seluruh dunia." Pada manik kecil: "Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia."
  • Jam Kerahiman, pukul 15.00. Jam wafat Yesus di salib. Pada jam ini kita diajak berhenti sejenak, mendoakan Koronka atau doa singkat, misalnya "Ya Darah dan Air yang memancar dari Hati Yesus sebagai sumber kerahiman bagi kami, aku percaya kepada-Mu" (Wikipedia).
  • Minggu Kerahiman Ilahi. Pada hari kanonisasi Santa Faustina, 30 April 2000, Paus Yohanes Paulus II menetapkan Minggu Paskah II sebagai Minggu Kerahiman Ilahi bagi seluruh Gereja.

Peringatan Santa Faustina untuk seluruh Gereja. Sejak 2020, atas keputusan Paus Fransiskus, nama Santa Faustina dimasukkan ke Kalender Romawi Umum, dan peringatannya dirayakan oleh seluruh Gereja setiap 5 Oktober (Vatican News).

Apa artinya bagi kita?

Kita lebih dulu menerima kerahiman. Sebelum menjadi "orang Samaria" bagi orang lain, kita adalah orang yang terluka di pinggir jalan. Yesus berhenti untuk kita, membalut luka kita lewat sakramen-sakramen, dan merawat kita di dalam Gereja. Kerahiman bukan hadiah bagi orang yang sudah baik, melainkan obat bagi orang yang terluka.

Kerahiman harus diteruskan. Dalam buku harian Santa Faustina, Yesus meminta perbuatan kerahiman yang lahir dari cinta kepada-Nya, dan memberi tiga cara untuk menunjukkan kerahiman kepada sesama: lewat tindakan, lewat kata-kata, dan lewat doa (Buku Harian, no. 742; The Divine Mercy). Di bagian yang sama, Ia mengingatkan bahwa iman yang paling kuat pun tidak berguna tanpa perbuatan (saint-faustina.com).

  • Lewat tindakan: mengunjungi orang sakit atau lansia di lingkungan kita, membantu tetangga yang sedang kesulitan, berbagi dengan yang berkekurangan.
  • Lewat kata-kata: memaafkan orang yang menyakiti kita, menghibur yang berduka, menyapa yang kesepian, termasuk di media sosial.
  • Lewat doa: kalau tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kita masih bisa mendoakan. Itu pun kerahiman.

Belas kasih tidak bertanya "dia siapa?" Orang Samaria tidak memeriksa agama, suku, atau latar belakang orang yang terluka itu. Ia hanya melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan. Di tengah keberagaman Indonesia, inilah panggilan kita: menjadi sesama bagi siapa saja yang kita jumpai.

Pertanyaan refleksi

Pertanyaan ini bisa dipakai untuk renungan pribadi, pertemuan KBG/rukun, atau OMK.

  1. Pernahkah saya berada di posisi orang yang terluka di pinggir jalan, lalu ditolong oleh seseorang yang tidak saya duga?
  2. Seperti imam dan orang Lewi, alasan apa yang paling sering membuat saya "lewat begitu saja" saat melihat orang yang membutuhkan?
  3. Siapa orang yang selama ini saya anggap "bukan sesama saya"? Apa yang membuat saya menjaga jarak darinya?
  4. Dari tiga cara kerahiman (tindakan, kata-kata, doa), mana yang paling mudah bagi saya, dan mana yang paling sulit?
  5. Satu perbuatan kerahiman apa yang bisa saya lakukan minggu ini, mungkin pada pukul tiga sore?

Doa penutup

Tuhan Yesus, Orang Samaria yang Baik Hati, Engkau tidak lewat begitu saja ketika kami terluka. Engkau berhenti, membalut luka kami, dan membawa kami pulang ke dalam Gereja-Mu.

Ajarlah kami meneruskan kerahiman yang telah kami terima: lewat tindakan yang menolong, kata-kata yang menghibur, dan doa yang setia. Bukalah mata kami untuk melihat sesama yang membutuhkan, tanpa bertanya lebih dulu, "Dia siapa?"

Santa Faustina, doakanlah kami. Yesus, Engkaulah andalanku. Amin.

Sumber dan bacaan lanjut

Bacaan dan dokumen Gereja

Santa Faustina dan Kerahiman Ilahi

Tafsir perumpamaan Orang Samaria

Gambar: Komsos Paroki Trinitas Paslaten. Lukisan Kerahiman Ilahi: Eugeniusz Kazimirowski, 1934, domain publik.