Logo Paroki Trinitas Mahakudus Paslaten, TomohonParokiTrinitas Mahakudus Paslaten
Masuk
Warna Liturgi: Hijau

Hari Biasa — Hari Sabtu Imam

Renungan: Setia dalam Perkara Kecil
Ukuran Teks Halaman:

BACAAN KITAB SUCI & LITURGI

Klik judul bacaan untuk membuka/menutup teks Kitab Suci

Flp. 4:10-19
Mzm. 112:1-2.5-6.8a.9
Luk. 16:9-15

BACAAN OFISI (BCO)

Keb 18:1-15a
Sumber Teks Bacaan:imankatolik.or.id
Santo Willibrordus
Orang Kudus: Santo Willibrordus

“Setia Mewartakan Injil, Tak Gentar Menghadapi Tantangan”

Santo Willibrordus

Santo Willibrordus

Santo Willibrordus lahir sekitar tahun 658 di Northumbria, Inggris. Sejak masa mudanya, ia telah mendapatkan pendidikan iman dan kehidupan rohani dalam lingkungan biara. Kerinduan untuk semakin mengenal Tuhan membawanya pergi ke Irlandia. Di sana ia memperdalam pengetahuan dan kehidupan imannya selama bertahun-tahun. Dalam perjalanan hidupnya itu, tumbuhlah keinginan yang kuat dalam diri Willibrordus untuk menjadi seorang misionaris dan membawa Injil kepada bangsa-bangsa yang belum mengenal Kristus.

Sekitar tahun 690, Willibrordus bersama sebelas rekannya meninggalkan Irlandia dan berangkat menuju wilayah Frisia, yang sekarang sebagian besar merupakan wilayah Belanda. Mereka datang bukan untuk mencari kehidupan yang nyaman, tetapi untuk menjalankan tugas pewartaan. Di tempat yang baru, Willibrordus menghadapi berbagai tantangan dan penolakan. Namun, ia tidak mudah menyerah. Dengan ketekunan dan keberanian, ia terus memperkenalkan iman Kristiani serta membangun kehidupan umat di wilayah tersebut.

Untuk memperkuat karya misinya, Willibrordus pergi ke Roma dan menghadap Paus Sergius I. Pada tahun 695, ia ditahbiskan menjadi uskup dan menerima nama Clemens. Setelah itu, Utrecht menjadi pusat karya pewartaannya. Dari sana ia membangun gereja dan komunitas Kristiani serta membina para pewarta agar iman yang telah ditanam dapat terus berkembang. Ia juga mendirikan Biara Echternach pada tahun 698, yang kemudian menjadi salah satu pusat penting kehidupan rohani dan pewartaan Kristiani.

Perjalanan Willibrordus tidak selalu berjalan dengan mudah. Pergolakan politik dan berbagai tantangan menyebabkan karya pewartaannya beberapa kali mengalami hambatan. Namun, ketika keadaan memungkinkan, ia kembali melanjutkan tugasnya. Ia tidak membiarkan kegagalan membuatnya berhenti. Bagi Willibrordus, mewartakan Injil merupakan panggilan yang harus dijalankan dengan kesetiaan, meskipun membutuhkan pengorbanan dan ketekunan.

Pada masa tuanya, Willibrordus lebih banyak tinggal di Biara Echternach. Di sanalah ia menghabiskan hari-hari terakhir hidupnya dalam doa dan pelayanan. Ia wafat pada 7 November 739 dan dimakamkan di Echternach. Karena ketekunannya dalam membawa Injil kepada bangsa Frisia, ia kemudian dikenang oleh Gereja sebagai Rasul Bangsa Frisia.

Kisah Santo Willibrordus mengajarkan kepada kita bahwa menjadi pengikut Kristus berarti berani keluar dari kenyamanan dan bersedia menjadi pembawa terang bagi orang lain. Ia menunjukkan bahwa pelayanan tidak selalu menghasilkan keberhasilan dengan cepat. Ada kalanya kita mengalami penolakan, kegagalan, atau bahkan harus memulai kembali. Namun, selama kita tetap setia kepada Tuhan, setiap usaha untuk menanamkan kebaikan dan iman tidak pernah sia-sia.

Santo Willibrordus mengajak kita untuk tetap setia dalam panggilan, tekun dalam pelayanan, dan berani mewartakan Kristus melalui kehidupan sehari-hari. Sebab, seperti dirinya, kita pun dipanggil untuk menjadi pembawa terang dan kasih Tuhan di tengah keluarga, lingkungan kerja, sekolah, dan masyarakat.

Sumber: The Catholic Encyclopedia – “St. Willibrord”; Vatican News – “St. Willibrord”; Willibrordus Basilika Echternach.