Logo Paroki Trinitas Mahakudus Paslaten, TomohonParokiTrinitas Mahakudus Paslaten
Masuk
Warna Liturgi: Hijau

Yohanes dr Kapestrano

Renungan: Membaca Tanda Zaman, Memperbaiki Hati
Ukuran Teks Halaman:

BACAAN KITAB SUCI & LITURGI

Klik judul bacaan untuk membuka/menutup teks Kitab Suci

Ef. 4:1-6
Mzm. 24:1-2.3-4ab.5-6
Luk. 12:54-59

BACAAN OFISI (BCO)

Sir 42:15-25; 43:27-33
Sumber Teks Bacaan:imankatolik.or.id
Santo Yohanes dari Kapestrano
Orang Kudus: Santo Yohanes dari Kapestrano

“Dari Pejabat Menjadi Imam Fransiskan”

Santo Yohanes dari Kapestrano

Santo Yohanes dari Kapestrano

Santo Yohanes dari Kapestrano, yang dikenal secara internasional sebagai Santo Yohanes dari Capistrano (Saint John of Capistrano), lahir pada tanggal 24 Juni 1386 di Kapestrano, wilayah Abruzzo, Italia. Ia hidup pada abad ke-14 dan ke-15, suatu masa ketika Eropa mengalami berbagai konflik politik, persoalan sosial, serta tantangan dalam kehidupan Gereja. Sejak muda, Yohanes dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan memiliki kemampuan intelektual yang luar biasa. Ia menempuh pendidikan hukum di Universitas Perugia dan kemudian menjadi seorang ahli hukum yang berhasil. Pada tahun 1412, ia diangkat menjadi gubernur Perugia dan berusaha menjalankan tugasnya dengan menentang korupsi serta praktik suap.

Namun, perjalanan hidup Yohanes mengalami perubahan besar pada tahun 1416. Ketika terjadi konflik antara Perugia dan keluarga Malatesta, ia diutus untuk menjalankan misi perdamaian, tetapi justru ditangkap dan dipenjarakan. Pengalaman pahit tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Di tengah keterbatasan dan penderitaan, Yohanes mulai merenungkan makna kehidupan, tujuan keberadaannya, dan hubungannya dengan Tuhan. Menurut tradisi biografinya, ia mengalami pengalaman rohani yang mengarahkannya kepada teladan Santo Fransiskus dari Assisi dan panggilan untuk menjalani hidup religius. Ia kemudian memutuskan meninggalkan karier duniawinya dan bergabung dengan Ordo Saudara Dina Fransiskan pada tahun 1416.

Setelah memasuki kehidupan Fransiskan, Yohanes menjalani pembinaan rohani dan studi teologi. Ia berada di bawah bimbingan Santo Bernardinus dari Siena, seorang Fransiskan terkenal yang memiliki semangat besar dalam pewartaan Injil dan penyebaran devosi kepada Nama Kudus Yesus. Yohanes belajar dengan tekun, memperdalam pengetahuan iman, serta membentuk hidupnya melalui doa, pertobatan, disiplin, dan pelayanan. Pada tahun 1425, ia ditahbiskan menjadi imam. Sejak saat itu, ia mengabdikan dirinya secara penuh untuk mewartakan Injil dan mengajak umat memperbarui kehidupan rohani.

Yohanes menjadi salah seorang pengkhotbah Fransiskan yang terkenal pada zamannya. Ia melakukan perjalanan ke berbagai wilayah Italia dan sejumlah negara Eropa untuk menyampaikan khotbah, mengajar umat, serta menyerukan pertobatan dan pembaruan hidup. Khotbah-khotbahnya menarik banyak orang, bahkan sering kali orang berkumpul dalam jumlah besar sehingga ia harus berbicara di lapangan atau ruang terbuka. Ia juga giat menyebarkan devosi kepada Nama Kudus Yesus dan berusaha menghidupkan kembali semangat iman di tengah masyarakat yang menghadapi berbagai persoalan. Baginya, pewartaan bukan sekadar menyampaikan kata-kata, melainkan panggilan untuk mengarahkan manusia kembali kepada Tuhan.

Selain menjadi pengkhotbah, Yohanes memainkan peranan penting dalam pembaruan Ordo Fransiskan. Ia menginginkan agar para saudara Fransiskan hidup setia pada semangat kemiskinan, kesederhanaan, doa, dan pertobatan yang diwariskan Santo Fransiskus dari Assisi. Dengan pengetahuan hukumnya, ia turut membantu menyelesaikan persoalan internal dan membela gerakan pembaruan dalam ordo tersebut. Ia juga menjalankan berbagai tugas yang dipercayakan kepadanya oleh para paus, termasuk misi diplomatik dan pelayanan Gereja di sejumlah wilayah Eropa. Tugas-tugas itu membawanya berhadapan dengan persoalan keagamaan dan perpecahan yang kompleks pada zamannya. Meskipun demikian, ia terus bekerja menurut keyakinan dan pemahaman iman yang dianutnya. Beberapa tindakannya terhadap kelompok yang dianggap menyimpang dari ajaran Gereja juga mencerminkan kerasnya konteks keagamaan abad pertengahan dan perlu dipahami secara kritis dalam konteks sejarahnya.

Pada tahun 1453, Konstantinopel jatuh ke tangan Kesultanan Utsmaniyah. Peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran besar di sejumlah wilayah Eropa. Yohanes kemudian mengambil bagian dalam upaya menggalang dukungan bagi pertahanan wilayah Kristen di Eropa Tengah. Meskipun usianya telah lanjut, ia tetap melakukan perjalanan dan menyerukan semangat kepada masyarakat serta para pejuang. Pada tahun 1456, ia hadir dalam peristiwa pengepungan Belgrade, ketika pasukan Kristen di bawah pimpinan militer Yohanes Hunyadi berjuang menghadapi pasukan Utsmaniyah. Yohanes dari Kapestrano turut memberikan dukungan rohani dan menyemangati para pejuang. Pertahanan Belgrade berhasil bertahan dan pengepungan berakhir dengan kemenangan pihak Kristen pada Juli 1456. Peran Yohanes dalam peristiwa ini menjadi salah satu bagian yang paling dikenal dalam riwayat hidupnya.

Setelah peristiwa Belgrade, kesehatan Yohanes semakin memburuk akibat kelelahan dan penyakit. Ia akhirnya meninggal dunia pada tanggal 23 Oktober 1456 di Ilok, yang pada masa itu berada di wilayah Kerajaan Hungaria dan kini terletak di Kroasia. Ia wafat setelah puluhan tahun mengabdikan dirinya dalam kehidupan religius, pewartaan Injil, pembaruan Ordo Fransiskan, dan pelayanan Gereja. Gereja Katolik kemudian mengakui kekudusannya. Ia dibeatifikasi oleh Paus Aleksander VIII pada tahun 1690 dan dikanonisasi oleh Paus Benediktus XIII pada tahun 1724.

Santo Yohanes dari Kapestrano dikenang sebagai imam Fransiskan, pengkhotbah, ahli hukum, dan pembaru kehidupan religius yang memiliki semangat pelayanan luar biasa. Hari pestanya diperingati setiap tanggal 23 Oktober. Ia juga dikenal sebagai pelindung para ahli hukum dan hakim.

Riwayat hidupnya mengajarkan bahwa panggilan Tuhan dapat hadir melalui peristiwa yang tidak pernah direncanakan manusia. Pengalaman penahanan yang dialaminya menjadi kesempatan untuk meninjau kembali arah hidup dan menemukan panggilan yang lebih mendalam. Dari seorang ahli hukum dan pejabat pemerintahan, Yohanes memilih jalan pelayanan sebagai imam Fransiskan. Hidupnya memperlihatkan pentingnya pertobatan, ketekunan, keberanian, dan kesetiaan dalam menjalankan tugas yang diyakini sebagai panggilan Tuhan.

Melalui teladannya, umat diajak untuk tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan, tetapi menjadikannya kesempatan untuk bertumbuh dalam iman dan kebijaksanaan. Santo Yohanes dari Kapestrano mengingatkan bahwa usia, kedudukan, dan keadaan hidup bukanlah penghalang untuk terus melayani. Selama manusia bersedia membuka hati terhadap panggilan Tuhan, hidupnya dapat menjadi sarana untuk membawa harapan, memperkuat iman, dan melayani sesama.

Sumber :