Logo Paroki Trinitas Mahakudus PaslatenParokiTrinitas Mahakudus Paslaten
Masuk
Warna Liturgi: Hijau

St. Robertus Bellarminus, St. Hildegardis dr Bingen

Renungan: Membasuh Dosa dengan Air Mata Pertobatan
Ukuran Teks Halaman:

BACAAN KITAB SUCI & LITURGI

Klik judul bacaan untuk membuka/menutup teks Kitab Suci

1Kor 15:1-11
Mzm 118:1-2.16ab-17.28
Luk 7:36-50

BACAAN OFISI (BCO)

Est 5:1-14; 7:1-10
Sumber Teks Bacaan:imankatolik.or.id
Acuan: 1Kor 15:1-11

Membasuh Dosa dengan Air Mata Pertobatan

Pernahkah kita merasa sangat malu, bersalah, atau merasa "kotor" setelah melakukan kesalahan besar, hingga rasanya kita tidak pantas lagi untuk berdoa atau pergi ke gereja? Reaksi pertama manusia saat jatuh ke dalam dosa sering kali adalah bersembunyi dan menjauh dari Tuhan karena rasa tidak layak.

Namun, Injil hari ini mengetuk pintu hati kita dengan sebuah pesan : Dosa dan kerapuhan kita seharusnya menjadi alasan terkuat bagi kita untuk berlari mendekat kepada-Nya, bukan malah menjauh.

Dalam kisah hari ini, kita melihat kontras yang tajam antara dua tokoh: Simon si orang Farisi dan wanita berdosa.

·         Simon si Orang Farisi merasa dirinya sudah hidup kudus, bersih, dan menaati hukum agama. Sehingga ia merasa sudah suci dan hatinya menjadi dingin. Ia tidak memberikan air untuk membasuh kaki Yesus dan tidak menyambut-Nya dengan kehangatan. Karena merasa tidak punya banyak dosa, ia merasa tidak terlalu butuh pengampunan, dan akhirnya, ia sedikit mengasihi.

·         Wanita Berdosa menyadari sepenuhnya betapa hancur dan kotor hidupnya. Namun, alih-alih bersembunyi dalam keputusasaan, ia mengambil langkah berani. Ia menerobos rumah seorang Farisi demi menjumpai Yesus. Ia menangis di kaki Yesus, membasuhnya dengan air mata, dan meminyakinya. Wanita ini membawa kasih yang besar karena ia tahu betapa besarnya pengampunan yang ia butuhkan.

Yesus dengan tegas membela wanita ini dan berkata kepada Simon: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih.” Yesus tidak melihat masa lalu wanita itu, melainkan melihat pertobatan dan kasih yang menyala di hatinya saat itu.

Bagaimana kita menerapkan Injil hari ini dalam kehidupan kita sehari-hari?

·         Lepaskan Topeng Kesombongan: Seperti Simon, kadang kita terjebak merasa "lebih baik" dari orang lain karena kita rajin ke gereja atau aktif di wilayah rohani. Mari kita periksa batin: Apakah kita masih sering menghakimi sesama yang kita anggap hidupnya kurang benar?

·         Miliki Keberanian untuk Datang Apa Adanya: Tuhan tidak menunggu kita menjadi "sempurna dan suci" baru boleh datang kepada-Nya. Datanglah ke Sakramen Rekonsiliasi (Pengakuan Dosa) dengan hati yang hancur dan rindu seperti wanita tersebut. Bawalah air mata pertobatan kita ke hadapan altar-Nya.

·         Mengasihi karena Telah Diampuni: Tolak ukur seberapa dalam kita mengalami kasih Allah adalah seberapa besar kita mampu mengampuni dan mengasihi orang lain. Jika kita sadar telah diampuni dari dosa yang besar, kita pun akan lebih mudah mengampuni kesalahan sesama.

Tuhan Yesus tidak pernah jijik pada luka-luka dosa kita. Yang membuat Dia menjauh bukanlah besarnya dosa kita, melainkan ketegaran hati kita yang menolak untuk diampuni. Mari kita pulang hari ini dengan membawa keyakinan iman bahwa di dalam Yesus, selalu ada kesempatan kedua, selalu ada pengampunan, dan selalu ada damai sejahtera.